ANCAMAN





Lampunya yang sudah redup mengiringi langkah kasabnya. Dengan debu menempel pada plastik dagang yang dipajang di depan, keyakinannya masih tetap kokoh mengunggu pembeli. 

Ini hanya gambaran singkat tentang warung rakyat yang tertatih-tatih menunggu dan mengagungkan pembeli datang. Kehadiran mereka kian termarjinalkan dan tersisihkan oleh zaman. Namun apa dikata, hidup haruslah tetap dibiayai. Mereka tetap menjual barang dagang meski satu atau dua pembeli yang datang tiap harinya.

Geliat dunia modern kian merambah ke pelbagai sektor kehidupan, kehadiran warung-warung yang berbusana modern kini kian marak dipenjuru kota ataupun desa. Sebutlah Minimarket yang sering kita jumpai di setiap suduh daerah. Sebuah toko modern yang sering dikunjungi walau pengunjung hanya membeli air mineral. Inilah realita yang terjadi sekarang, drama kolonial yang diperankan oleh bangsa sendiri.
Sepertinya, pemangku kebijakan sudah tak punya mata dan telingga. Masalah sepertinya ini saja mereka tak bisa memberi peraturan yang layak. Kalau karena alasan kemajuan ekonomi, ekonomi yang mana? Ekonomi bagi kaum kapital? Bukankah ekonomi kerakyatan lebih penting ketimbang ekonomi segelintir orang? Bangsa kita sudah merdeka dari feodalisme, kolonialisme dan imprealisme namun belum untuk yang satu ini. Penjajahan masih terus dilantangkan dalam kemasan yang berbeda. Dijajah dengan keadaan terjajah tak sadar kalau ia berada dalam kuasa penjajah. Ini memang miris bagi hati namun terjadi di depan mata pada tiap harinya. Kenyataan yang pelik dan kompleks untuk dipecahkan secara sendiri.
Kalaulah kita bangsa indonesia tak beri pilihan untuk usaha mandiri, apakah penguasa menghendaki agar rakyatnya menjadi hamba di bawah kaki-kaki perusahaan? jika begitu rupanya, jangan salahkan bila ada hati nurani yang melakukan revolusi dengan memakan korban nyawa. Relakan saja bila perubahan ke arah yang didambakan harus dibayar dengan darah-darah pengorbanan. Biarkanlah kami meneriakan kata dari seorang revolusioner, "HASTA LA VICTORIA SIEMPRE!".

Leave a Reply